Rabu, 06 Juli 2016
Depresi Jilid 3 : Romantika
Aku mulai berpikir untuk mengubah nama blog ini jadi KRONA'TRAGIS' daripada KRONALOGIS
Ya, karena beberapa hal tragis yang melanda hidupku yang kusebar-sebar di banyak posting blog ini. Semoga tetap bisa diambil manfaatnya, kalau pun tidak dari sisi kontennya. Bisa dari nilai hiburannya. Boleh kok kalian ketawa dengan cerita-cerita miris absurb ini.
Eh, ya karena judul posting ini Romantika kalian pasti tahu aku akan membahas apa. Tapi karena masih dalam label 'depresi' tentu ini bukan kisah cinta yang berbunga-bunga. Manis dan legit. Justru sebaliknya. Sepet benerrr!
Namanya Camata. Aku sebut begitu karena dia pakai kaca mata. Sebulanan kami nggak ketemuan karena agenda mengurung diriku. Efek dari sumpah Palapa ala-ala yang kucetuskan dengan penuh kesungguhan :
"Aku tertanda Korona, tidak akan menikmati semua hal berbau keduniawian sebelum bisa membahagiakan orang tuaku."
Yosh! Mulia sekali sumpahku. Sudah seperti anak sholehah calon pembawa surga bagi orang tua. Eaakkk... Yah, meskipun tidak dapat award apa-apa juga sih dari bapak ibuku. Tapi aku serius dengan pengorbanan ini. Tidak mejeng, tidak jajan, tidak beli baju, tidak dandan cantik. Tuh, kan. Kurang lengkap apa pengorbananku. Eh, ditambah satu lagi : Tidak pacaran (ketemuan) dengan pacarku.
Untuk yang terakhir kuusahakan dengan semaksimal mungkin. Makanya kami galau. Ya, bukannya aku egois ya. Seenak udel ambil keputusan aneh seperti itu. Tapi aku peka. Aku nggak mau para orang tua berpikir aku dan si camata nggak kelar-kelar kuliahnya karena sibuk pacaran. Jadi demi ketenangan para orang tua kami memang mau tidak mau harus mengambil langkah ini. Huffttt.. :'(
Tiba-tiba aku kangen sama si dia. Dia bukanlah tipe orang yang bisa digolongan ganteng dari sudut mana pun. Bahkan dari belakang pun masih kelihatan lusuh gara-gara rambut ikal berantakannya itu. Tapi aku suka dia. Ya, namanya juga lagi kangen. Coba kalau lagi berantem. Sudah deh aku bakalan mulus menghina dina dia dengan tidak berperikekasihan. hehehe
Si Camata punya masalah kurang lebih sama denganku. Bahkan lebih parahan dia mungkin. Aku nggak tahu, cuma kira-kira soalnya si bapaknya dia itu orang terpandang. Oh, no. Ya, seorang kepala sekolah SMP. Bagi orang desa sepertiku, status kepala sekolah sudah tergolong piyayi. Bandingin aja dengan orang tuaku yang cuma lulusan SD. Hemmm... tapi kalau dari segi kasih sayang lebih banyak orang tuaku kemana-mana. Soalnya bapak-ibuku sabar-sabar aja sih ngadepin anak yang super ndabled kayak aku ini. :D
Ya, akhir kata. Semoga aku dan Camata bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Semoga masalah ini lekas selesai dan kami bisa dipersatuan dengan lebih baik. Duh, camata. GUE KANGEN LO PARAH!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar