Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi...
Pernah dengar lagu itu?
Itulah yang sedang coba aku lakukan. Mungkin itu juga penyebabnya aku di persimpangan ini terlalu lama --entahlah, aku belum yakin seratus persen ini alasannya.
Di posting sebelumnya bila kalian cukup kurang kerjaan untuk mengingat-ingat. Ada kata-kata aku yang di depan laptop melihat deretan huruf. Jangan berpikir aku hanya main main di FB, twitter, stalkingin orang, karena tanpa kalian pikirkan pun semua itu memang aku lakukan. Tapi tidak sepenuhnya, setidaknya lebih dari separuh kegiatan 'melihat hurufku' adalah menulis.
Cita-citaku menjadi novelis.
Kerenkan?
Saat ditanya bapak-ibu setelah lulus mau kerja apa? Aku menjawab : AKU PENGEN NULIS! JADI PENULIS TERKENAL. Lalu mereka terbengong, ternyata menulis bukan kategori 'pekerjaan' bagi mereka. Karena tidak ada kantor, tidak ada seragam, tidak ada gaji tetap. Yang ada cuma angan-angan bodong yang diimpi-impikan bocah bau trasi seperti aku --karena bau kencur sudah terlalu tidak patut. Mengingat usia. Jiwaku boleh 17 tahun, tapi kalender sudah menggulirkan umurku dengan semena-mena.
Pada suatu hari yang riang gembira. Aku baru saja dapat bingkisan novel ke duaku. Penerbitnya cukup bonafid, sebut saja Grasindo, ya memang itu sih penerbitnya Dengan sumringah aku tenteng buku bersampul hijau muda itu, aku pamerkan ke Bapakku. "Pak, ini bukuku lho. Aku yang nulis."
Jawaban yang aku dapat, "Lha bisa jadi duwit tidak?"
Gludakk!
Pelajaran baru : Di kehidupan orang dewasa semuanya akan dinilai dengan UANG! Titik!
Tiba-tiba aku ingin mengkorek-korek satu kolom di KTPku dengan ujung silet. Lalu menulis angka 17 di sana, atau 12 sekalian. Sambil mengia-iba Ya Tuhan, aku nggak pengen dewasa!
Yang kulakukan selanjutnya adalah mengomat-ngamitkan matra agar banyak digit yang bertandang ke tabunganku, enam bulan kedepan. Saat pelaporan royalti, please, please! Tuhan Please. Engkau yang Maha Pemberi Riski, Kau Yang Maha Berkehendak, please.
Tidak hanya itu. Ada yang tidak kalah kejam. Dari ibuku : "Jadi penulis entar anakmu keburu kelaparan, kamu nggak punya uang soalnya bukumu belum laku."
Ngek! Ngok!
Spontan aku menjawab, "Ya, udah aku nggak akan nikah bahkan punya anak kalau belum jadi penulis mapan."
Aku lari terbirit-birit ke kamar setelahnya. Mencoreti diariku dengan tulisan : AKU AKAN JADI PENULIS, DAN ANAKKU TAK AKAN KELAPARAN. Mewek. Galau. Merasa hina dina.
Lalu... ya, begitulah.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar