Rabu, 06 Juli 2016

Depresi Jilid 1 : Antisosial

Sudah sebulanan ini aku memutuskan mengurung diri di rumah. Efek yang kudapat adalah kulit menjadi lebih putih alami tanpa olesan atau dempulan apa pun. Dampak buruknya, "Kamu menjadi antisosial." Hei, aku bercermin ketika mengatakan ini.

Aku sedang depresi. Jangan kaget kalau isi blog ini hanya keluhan-keluhanku tentang kehidupan yang tidak akan habis masalah sebanyak apa pun kita tangisi. Kecuali kalau aku memutuskan mati. Duh! Mungkin hampir 30% orang yang memasuki usia sepantaranku akan berpikiran untuk bunuh diri. Beban sosial. Skripsi belum kelar, kerjaan nihil, seharian cuma di depan laptop sambil ngelihatin deretan-deretan huruf. Sampai pening. Belum lagi ditambah mulut-mulut tetangga dan pandangan orang tua yang menyiratkan keprihatinan. Rasanya pengen teriak.

"Buk, Pak. Anakmu. Nggak guna!"

Lalu nangis sendiri. Ketawa sendiri --ini efek nonton film/drama korea setelah nangis. Kalau kalian tipe beginian, tenang kalian nggak sendiri. Setidaknya ada satu makhluk yang senasip, ya, aku.

Kusadari salah satu masalah yang mendasar adalah : SKRIPSI. Aku bukannya tidak bisa ngerjakannya, aku aku bisa. Aku yakin bisa. Ehem, bukannya mau sombong tapi dengan 6 SKS Skripsi yang nilainya 0, IP-ku masi cumclaude. Cuma mau bilang otakku nggak seret-seret amat. Tapi masalahnya, motivasiku yang sedang kendor sekendornya. Kalau diibaratkan selembek gelambir sapi. Tapi mau bagaimana lagi, jiwaku sedang bermasalah. Dan aku butuh jawaban bagaimana untuk menghadapai ini semua?

Kalau boleh jujur aku menulis di sini merupakan salah satu upayaku menemukan jalan itu. Bagaimana aku menghadapi ini? Mungkin dengan menuliskan semua kebodohanku di sini, aku jadi bisa tahu di mana celahnya. Dimana masalahku sebenarnya. Yap. Aku harap menemukan itu segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar